Aku Pernah Merindu - Puisi

Buat anda yang sedang mencari beberapa puisi cinta, disinilah tempatnya situs hiduppuisi yang akan berbagi puisi puisi indah. Pada kali ini hiduppuisi berbagi puisi yang berjudul aku pernah merindu.

Aku-Pernah-Merindu-Puisi

Aku Pernah Merindu


Aku pernah bernyanyi diantara malam
diantara sunyi dan sepi

aku pernah berjalan diantara malam
diantara daun gugur yang tersapu angin malam

aku pernah berjalan diantara malam
diantara dinginnya malam
diantara gelapnya malam

aku pernah berdiam diantara malam
hanya menikmati suasana malam dari balik jendela,
diantara pekatnya malam menuju fajar

aku pernah berlari diantara laut dan bukit
hanya untuk menikmati angin malam.

Kutipan "Rindu"


Tidak hanya puisi diatas, kalini ini hiduppuisi akan membagikan beberapa kutipan "rindu" untuk kalian yang bisa dipersembahkan untuk pasangan, keluarga atau teman dekat. Baik langsung saja ini beberapa kutipan dari beberapa tokoh, cekidot :

Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa.
Garis Waktu (Fiersa Besari)

Bukankah hidup ini sebetulnya mudah? Jika rindu, datangi. Jika tidak senang, ungkapkan. Jika cemburu, tekankan. Jika lapar, makan. Jika mulas, buang air. Jika salah, betulkan. Jika suka, nyatakan. Jika sayang, tunjukkan. Manusianya yang sering kali mempersulit segala sesuatu. Ego mencegah seseorang mengucap "Aku membutuhkanmu".
Garis Waktu (Fiersa Besari)

Pacaran jarak jauh memang tak semudah air yang jatuh, tetapi pacaran jarak jauh mampu menumbuhkan rindu yang utuh.
Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang Pacaran Jarak Jauh, hlm. 55 (Boy Chandra)

Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita.
Garis Waktu (Fiersa Besari)

Dan alasan kedua hujan turun ke bumi adalah untuk menghembuskan rasa rindu di hati para manusia.
Skripshit 273 (Alit Susanto)

Aku semaput dalam perasaan rindu. Aku ingin menghambakan diri dalam pelukannya.
Berjuta Rasanya 82 (Tere Liye)

Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu.
Dear You (Moammar Emka)