Bencana Untuk Negriku - Kumpulan Puisi Tenang Bencana Karya Chairil Anwar

Banyak sekali terjadi bencana sekarang ini, sepeti palu, lombok, lion air JT-610 yang jatuh, dll. Nah pada kesempatan kali ini hiduppuisi akan berbagi puisi alam karya chairil anwar sosok menyiar terkekuka indonesia yang sudah menulis 96 karya termasuk 70 puisi. Nah berikut ini salah satu puisi Alam karya chairil anwar - Bencana untuk negriku.
Bencana Untuk Negriku - Kumpulan Puisi Tenang Bencana Karya Chairil Anwar, Banyak sekali belakangan ini terjadinya bencana dinegri ini, mulai dari Gempa Lombok, palu dan juga yang terbaru jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Nah, Pada postingan kali ini hiduppuisi akan berbagi sebuah kumpulan puisi tentang tragedi Alam karya Chairil Anwar.

Siapa yang tidak mengenal sosok Chairil Anwar? Chairil Anwar atau dijuluki sebagai "Si Bintang Jalang" (Dari karya nya yang berjudul Aku) lahir di medan, sumatera utara, 26 juli 1922 dan meninggal pada umur 26 tahun atau lebih tepatnya di-Jakarta, 28 April 1949. Chairil Anwar adalah penyair terkemuka indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi, ia dinobatkan oleh H.B Jassin sebagai pelopor 45 sekaligus puisi modern indonesia. (WikiPedia)

Kumpulan Puisi Tenang Bencana Karya Chairil Anwar


puisi-karya-chairil-anwar

Bencana Untuk Negriku

Pohon berterbangan air laut tumpah
Bak air yang ditumpahkan
Karena kemarahan pencipta
Semua orang berlari
Berlari tanpa melihat kebelakang
Tak peduli dengan orang yang mereka cintai
Menangis-nangis yang Ada
Tanpa ada perubahan
Bukan hanya letusan gunung merapi
Banyak bencana-bencana sekarang yang terjadi
Aku hanya bisa terpaku dan terdiam

Laut merah
Gunung gelisah
Tanah marah
Indonesia pun resah

Kami mohon padamu Tuhan
Janganlah hal ini terjadi lagi
Segala cobaan kau lemparkan
Dengan sekuat hati menerima kenyataan ini

Kami hanya manusia biasa
Dan tidak luput dari dosa
Berilah kami kedamaian
Ohh... Engkau yang maha kuasa

Langkah demi langkah hati ini bergetar
Apakah ini terguran kuasa?
Teguran yang tidak bisa ditawar
Semoga perjuangan hidup ini tidak sia-sia

Situ Ginting

Mereka yang berlari
Menghindari mati
Berharap napas kan terpanjang
Walau hanya sedetik lagi
Mereka lalu terdiam
Tersesak, tertangis
Dan mereka ditanya
Kenapa?
Saat ku duduk
Lalu melihat ke atas
Mereka tersenyum
Minta diri
Untuk hari ini
Dan kita yang masih bernapas
Untuk besok
Akankah kita belajar dan bernapas demi diri sendiri?

Puisi Alam - Naluri Anak Ibu Pertiwi

Mereka tak menduga
Malapetaka menimpa
Meratap pedih
Kehilangan segala yang mereka punya
Jiwa
Keluarga
Kerja
Sanak-Keluarga
Harta benda? Pabila ada
Seorang perempuan lari, tak sempat membawa yang ida miliki
Kecuali dalam pelukan gendongan
Seorang anak satu-satunya, bagai biji-mata ibu-bapak

Kini terlah terjadi
Apa yang dipikiri
Penyembuhan diri
Penguatan hati
Pikir dulu hari ini

Harapan,
Tuk penguasa negri
Bantuan dari beberapa negara yang tiba
Terima dengan tangan terbuka
Bijak - Tepat - Cepat pelaksanaan mulia
Tak pandang bulu
Tak pandang suku
Tuk kepentingan mereka yang sedang pilu

Pabila mereka pulang kekampung halaman
Anak-anak bisa bermain riang
Dengan harapan
Ada tempat berteduh
Tuk hidup
Kerja mereka butuh

Semoga tuk keluarga yang tertimpa musibah cepat sembuh
Jasmani - Rohani
Tabahkan hati
Naluri anak ibu pertiwi