Puisi Karya WS Rendra Tentang Malam

pada kesempatan kali ini hiduppuisi akan berbagi Kumpulan Puisi Malam karya WS Rendra. Penasaran dengan puisi WS Rendra tentang malam ini? Yuk baca puisinya dibawah.
Puisi-karya-ws-rendra-tentang-malam

Puisi Malam WS Rendra - Siapa yang tidak tahu sosok WS Rendra. Nama W. S. Rendra sudah tidak asing lagi bagi para pecinta sastra. Berbagai puisi cipataanya selalu mendapat sambutan hangat dari para sastrawan.

Nah pada kesempatan kali ini hiduppuisi akan berbagi Kumpulan Puisi Malam karya WS Rendra. Penasaran dengan puisi WS Rendra tentang malam ini? Yuk baca puisinya dibawah.

Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Malam


#Malam Jahat

Malam dengan langit tanpa buahan
dan suara itu bukanlah angin puputan
tersebar ratapan perempuan sial
bagai merayap di atas jalan yang kekal.

Lelaki keluar ambang sendirian
burung hitam banyak hinggapan
sekali melangkah kakinya besi
dituruti jalan sangsi yang abadi.

WS Rendra
Buku: Stanza dan Blues – Malam Stanza

#Pertemuan Malam

Setelah mereguk getah rembulan tanggal pertama
aku berjalan tanpa tujuan di dalam hutan.
Kemudian bau gandasuli membuat aku tertegun,
berdiri kaku di tengah semak belukar,
menghentikan nyanyian serangga malam.

Terpancang seperti si Gale-gale
Tanpa pikiran dan perasaan.
Banyak masalah datang bersama,
tanpa sebab dan akibat.
Kemurungan menyelimuti diriku.
Seperti kabut menghalangi pemandangan.
Itu pun tanpa makna.
Tanpa keterangan. Tanpa hubungan.

Bau gandasuli memenuhi paru-paru.
Membanjir ke dalam urat-urat darah.
Bahkan lalu menjadi daging.
Ya, Allah, apakah aku mati sambil berdiri?

Cahaya bulan dan bintang-bintang
jatuh ke pohon-pohon yang sekadar pohon.
Serangga malam kembali bersuara sekadar suara.
Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa.
Tidak mengapa. Tidak bagaimana.
Sedetik dan seabad apa bedanya.

Tiba-tiba
dari kegelapan rumpun pohon-pohon jati emas
menyebar bau tembakau yang wangi.
Lalu aku lihat kilatan kacamata.
Lalu kilatan senyum dengan gigi-gigi putih.
Dan kemudian muncul dari kegelapan
sosok tubuh yang gagah berpeci hitam
dan mantel malam berwarna coklat tua.
Ayahandaku, paduka muncul tak terduga!

Apakah arti kehadiran anda ini?
Apakah batas antara hidup dan mati
menjadi tipis karena cahaya rembulan?
Aku tidak mengharapkan pertemuan ini.
Aku ikhlaskan anda istirah
di ranjang buaian kematian anda.
Kini, apakah yang akan anda katakan?

Tanpa harapan. Tanpa keinginan.
Aku berdiri terpaku di bumi.
Apakah sebenarnya aku sudah mati?
Dan kini menjadi sebatang gandasuli?

Anda hanya tersenyum
Tanpa berkata sapatah kata.
Kemudian anda melangkah sedikit ke depan
disertai beribu kunang-kunang
yang menerangi pohon-pohon di hutan.
Dan mengiring di belakang anda
kerumunan orang yang berbaju compang-camping.
Para pemulung dan perempuan bunga malam.
Semua tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku.

Ternyata ada juga di antara mereka
Atmo Karpo sang penyamun,
dan Joko Pandan, anaknya yang membunuhnya.
Lalu Fatima yang dizinahi oleh Kasa,
serta Maria Zaitun yang dimakan rajasinga.
Malahan Suto yang selalu mengembara
sepanjang masa juga ada.
Wahai, ilalang kehidupan setiap zaman!
Wahai, lumut dan kecoak setiap metropolitan!
Wahai, para patriot dunia ketiga yang bersimbah darah!
Semuanya tersenyum
dan melambaikan tangan kepadaku.

Di tengah kemeriahan tanpa suara itu
tercurah hujan air emas dari langit.
Hawa hangat merasuki ubun-ubunku
menjalar ke seluruh badan.
Aku menengadah.
Tampak ibunda turun dari langit
berdiri di puncak pohon yang paling tinggi.
Bau kulit susu dan kulit kuduknya
memenuhi dadaku.
Aku berlutut.
Mengharap ayahanda dan ibunda
mencium keningku. Tapi itu tidak terjadi.
Hujan air emas makin deras tercurah.
Mataku silau. Mataku silau.

Lalu ibunda melambaikan tangan memanggil ayahanda.
Dalam sekejap mata saja rasanya.
Ayahanda dan segenap barisan orang-orang tercinta
membubung ke langit mengikuti ibunda.
Lenyap ke angkasa raya.
Perlahan-lahan aku bangkit berdiri.
Keluar dari semak belukar.
Aku dengar dengung lebah.
Ayam jantan berkokok.
Asap keluar dari dapur-dapur di desa.
Fajar tiba.
Perempuan terkasih yang gelisah menunggu di rumah!
Anak-anakku yang sedang mengusap mata!
Cucu-cucuku yang sedang bermain air di kamar mandi!
Aku pulang.
Setelah mati di dalam hutan
dan hidup kembali.

Rumah Sakit Cinere, 5 November 2003
WS Rendra
Buku: Doa Untuk Anak Cucu

#Lagu Malam

Burung malam lepas dua-dua membendung anak kali dari langit.
Jatuhlah merjan-merjan mimpi.
Digetarkan bulu-bulu tubuhnyadan bersebaran kutu-kutu perak.

Manis, ya manis.
Tusuk peniti lima buahpada renda menutup dadamu.
Bujang-bujang mengulurkan tangannyatak berarah di remang-remangWahai, betapa bercandunyatangan bujang di remang-remang.

Ada bocah, ada nenekada pokok mangga dan dongeng.
Wajah yang dipahat tajam garammenyorot atas wajah bersih telanjang.
Mata-mata mereka tengadah terbuka.
Dan terlepas dari manik-manik hitamnya:burung emas tak bersarang.

Lagu Malam
Karya WS Rendra

Terimakasih sudah membaca Puisi Malam Karya WS Rendra, untuk kumpulan puisi WS Rendra lainnya bisa baca di sini. Jangan lupa share.